BLOG DUKE AMIENE REV
Memaparkan catatan dengan label Cerita Moral. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Cerita Moral. Papar semua catatan

Khamis, Ogos 16, 2012

Kisah Yang Paling Mengharukan Di Dunia 2 - Cinta Ini Milikmu, Mama

Cinta Ini Milikmu, Mama
Kisah Yang Paling Mengharukan Di Dunia

"Rosa, bangun ... Sarapanmu sudah Mama hidangkan di meja."

          Tradisi itu sudah berlangsung selama 26 tahun, sejak pertama kali aku boleh mengingat. Kebiasaan Mama tak pernah berubah.
        "Mama sayang, tidak usah susah-susah, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi.

         Wajah tua itu langsung berubah. Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restorang. Buru-buru kukeluarkan wang dan kubayar semuanya, ingin ku balas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku. Taur sedih itu tak boleh disembunyikan.

        Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya boleh mereka-reka, mungkin sekarang fasena aku mengalami kesuliatan memahami mama kerana dari sebuah artikel yang kubaca orang yang lanjut usia boleh sangat sensitif dan cendenrung untuk bersikap kekanakan, tapi entahlah ... MIatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. seperti biasa, mama tidak pernah mengatakan apa-apa.

        Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya, "Ma, maafkan aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata disana. Terbata - bata Mama berkata, "Tiba - tiba, Mama merasa kamu sudah tidak lagi memerlukan Mama. Karna sudah dewasa, sudah boleh menyara diri sendiri. Mama tidah boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, Mama tidak boleh lagi jajanin kamu. Semua sudah boleh kamu lakukan sendiri. "

        Ah, Ya Tuhan, ternyata bagi seorang ibu bersusah payah melayani Putra-Putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Suatu hal yang tak pernah aku sedari sebelumnya. Miat membahagiakan boleh jadi malah membuat orang tua menjadi sedih kerana kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat erti kebahagiaan dari seudut pandang masing masing.

       Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah ku persembahkan untuk mama pada usiaku sekarang? adakah Mama bahagia dan bangga pada anaknya?

      Ketika itu ku tanyakan pada mama. Mama Menjawab, "banyak sekali kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama, Nak. Kamu tumbuh sihat dan lucu ketika bayi adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berperilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar matamu mengisyaratkna kebahagiaan, disitulah kebahagiaan orang tua. "

       Lagi - lagi aku hanya boleh berucap, "Ampuni aku, ya Tuhan jika selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu."

         Betapa sabarnya ibuku melalui liku-liku kehidupan. Ibuku adalah seorang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan boleh dilimpahkan kepada sesiapa pun.

       Ah, maafkan kami, Mama ... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat mama lelah ... Sanggupkah aku, Ya Tuhan?

         "Rosa, bangun nak. Sarapan sudah mama siapin di meja."

        Kali ini aku melompat segera, buka pintu bilik dan kurangkul mama sehangat mungkin, ku ciumi pipinya yang mulai keriput, ku tatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan, "Terimakasih, Mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, izinkan aku membahagiakan mama. "

       Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan. Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu. Maafkan aku yang belum boleh menjabarkan erti kebahagiaan buat dirimu.

       Sahabat, tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimah "Aku sayang padamu". Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai.

         Ayuh, kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Mama. Walau mereka tidak pernah meminta. Percayalah .... kata - kata itu akan sangat bererti dan membuat mereka sangat bahagia.

        "Ya Allah, Cintailah Mama ku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan Mama. Dan jika saatnya nanti mama kau panggil, terimalah dan jagalah ia di sisiMu. Titip Mama ku, ya Allah."

             Untuk dan oleh semua Mama yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Mama nya.

Kisah Paling Mengharukan Di Dunia - KISAH HALIMAH

KISAH HALIMAH

Halimah ketika itu berusia 29 tahun, terpegun melihat seorang perempuan yang datang menghampirinya dengan air mata menitis di pipinya. Perempuan itu lalu memeluk Halimah sambil berkata, "Akhirnya kita boleh bertemu juga."

Belum habis rasa terkejut Halimah, perempuan tadi justeru menambah lagi kehairanannya. Perempuan tadi mengatakan bahawa dirinya adalah kakak kandung Halimah, yang telah sekian lama mencari kewujudan adik bongsunya yang hilang entah ke mana.

Dengan perasaan yang tidak keruan, Halimah mempersilakan perempuan yang mengaku kakaknya tadi untuk masuk ke rumah petakannya. Perempuan tadi lalu memperkenalkan diri, ia bernama Lenny, ia lalu mengeluarkan beberapa foto yang memaparkan dirinya, kakak-kakak Halimah yang lain, orang tua dan Halimah sendiri. Lalu mulailah ia berkisah tentang perjalanannya mencari adik bongsunya itu.

Singkat cerita, Lenny merasa lega, akhirnya perjuangannya boleh berjaya dan hatinya sungguh bahagia. Berbeza dengan Halimah, ia tidak tahu apakah dirinya bahagia dapat bertemu dengan keluarganya kembali, kerana kejutan tersebut pada saat itu. Namun jauh dalam hatinya tiada henti ia mengucapkan syukur kepada Allah SWT, kerana doanya diqobul. Memang itulah yang selama ini ia pertanyakan, "Ya Allah, pertemukanlah hamba dengan keluarga hamba yang sesungguhnya."

Setelah 29 tahun usianya, akhirnya Halimah mengetahui keluarga kandungnya. Sebab sejak usia 4 tahun, ia diangkat anak oleh sepasang suami isteri yang tidak kunjung diberi keturunan.

Empat tahun kemudian, Halimah diberi kesempatan berjumpa dengan keluarga besarnya di kampung halamannya Bitung, Sulawesi Utara. "Ya Allah terima kasih untuk kesempatan yang Engkau berikan pada hambamu ini. Ternyata aku mempunyai keluarga besar," demikian kata Halimah ketika ia turun dari Kapal Lambelu, di pelabuhan Butterworth. Keluarganya yang menjemputnya datang dengan 3 buah bas mini.

Pencarian Lenny akan adiknya bermula dari ucapan mendiang ayahnya, yang ketika diakhir masa hidupnya memanggilnya dan berkata, "Lenny, selama ini ada sesuatu yang Ayah sembunyikan darimu, kakak-kakakmu dan keluarga besar kita. Adik bungsumu sebenarnya tidak meninggal ia masih hidup, kerana waktu itu Ayah tidak sanggup membayar bayaran rumah sakit, maka terpaksa Ayah tinggalkan dia, dan menganggap dia sudah mati. Carilah dia, ... cari sampai ketemu. "

Dengan disokong suami, anak-anak dan keluarga besar; mulailah Lenny melakukan pencarian. Dan demikianlah selepas satu tahun perjuangan dan pengorbanannya, Lenny akhirnya berjaya mencari adik bongsunya yang tadinya dianggap telah meninggal.

1. HALIMAH BAYI

Halimah adalah bongsu dari 4 bersaudara, sebenarnya mereka berlima namun kakak kedua Halimah wafat diusia 6 tahun. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya hanya seorang nelayan, yang bila tidak turun ke laut ia bekerja sampingan menjadi kuli bangunan. Sedangkan ibunya adalah pemungut bulir beras di pelabuhan. Bila kapal pembawa beras yang berkarung-karung datang dari pulau Jawa, ibunya memunguti bulir beras yang tercicir keluar dari kenderaannya, dari pagi hingga sore hari. Bila kenderaannya sudah cukup berat untuk dipanggulnya, pulanglah ia ke rumahnya di lereng Gunung Dua Saudara.

Begitu kerasnya kerja ibu Halimah hingga akhirnya jatuh sakit. Ketika itu usia Halimah baru 8 bulan, saat ibunya akhirnya harus meninggalkannya selama-lamanya. Ibu Halimah meninggalkan anak yang masih kecil-kecil, putra tertua saat itu baru berusia 10 tahun, sedangkan adik-adiknya baru berusia 6 dan 3 tahun. Bisa dibayangkan betapa repotnya sang ayah mengurus mereka semua dengan ekonomi yang tidak menentu.

Sang ayah yang malang akhirnya menyerahkan anak-anaknya kepada saudara-saudaranya untuk dapat diurus. Tidak terkecuali Halimah, namun hal itu tidak berlangsung lama. Di usia 1 tahun, Halimah jatuh sakit, sementara saat itu di Butterworth, belum ada rumah sakit yang mencukupi. Akhirnya oleh ayahnya, Halimah dibawa ke rumah sakit di kota Kinabalu, yang jaraknya 8 jam dari Butterworth, saat itu.

Setelah beberapa hari dirawat, Halimah kembali sihat. Ayahnya hendak membawanya pulang, namun ia tidak sanggup membayar bayaran rumah sakit yang sungguh besar. Dengan berat hati terpaksa ayahnya tidak dapat membawanya pulang, jauh dalam lubuk hatinya ia menangis, "Maafkan aku anakku, aku terpaksa meninggalkanmu disini, semoga Tuhan memelihara."

Ayah Halimah lalu pulang, ketika tiba di Butterworth, sanak keluarganya menanyakan bagaimana keadaan Halimah. Dengan berat hati ayahpun berbohong, "Halimah telah meninggal dan dimakamkan disana oleh pihak rumah sakit."

Oleh kerana ucapan ayah Halimah itulah, tidak satu pun keluarga menyedari bahawa Halimah sebenarnya masih hidup, ia tergolek tak berdaya di sebuah rumah sakit di Tomohon, bandar yang cukup jauh dari Butterworth.

2. HALIMAH KECIL

Demikianlah ayah Halimah tidak pernah datang untuk menjemput Halimah lagi. Sampai usia 1 tahun setengah, Halimah hanya dirawat oleh para jururawat. Hingga suatu masa, Kepala RS jatuh iba kepada Halimah, balita malang ini dibawanya pulang dirawat dan diasuhnya hingga usia 3 tahun, sekaligus sebagai pancingan bagi isterinya agar dapat hamil. Setelah isterinya berjaya hamil, Halimah diberikan kepada sepasang suami isteri yang juga ingin punya anak. Sekitar 1 tahun, ia dirawat pasutri ini dan lagi-lagi ia berpindah tangan ke pasutri lain, kerana pasutri sebelumnya berjaya memiliki momongan. Di pasutri yang ketiga inilah berakhir perjalanan Halimah sebagai 'pemancing kehamilan', kerana hingga Halimah dewasa, mereka tidak kunjung diberikan keturunan.

Kala itu usia Halimah menginjak 4 tahun, ketika pasutri yang ketiga dan terakhir yang mengasuh dan merawatnya, memboyong Halimah ke Jakarta. Kerana ayah angkatnya yang baru ini mendapat peluang-peluang pekerjaan yang lebih baik.

Halimah dirawat dan diasuh dengan baik, ia disekolahkan dan diberi pendidikan agama Nasrani yang baik. Tidak hanya Halimah saja yang diangkat anak oleh pasutri ini, anak saudara ibu angkatnyapun diambil dan diangkat anak oleh mereka. Jadi Halimah mempunyai seorang adik perempuan.

Dengan izin Allah SWT, Halimah memeluk Islam di usianya 28 tahun, setahun sebelum ia bertemu Lenny, sang kakak kandung yang mencarinya. Kini Halimah telah berumah tangga dan mempunyai anak perempuan yang menginjak remaja. Namun ia tidak pernah lupa berterima kasih kepada kedua-dua ayah dan ibu angkatnya, yang dengan penuh kasih sayang dan ketulusan hati, telah merawat dan membesarkannya.

Halimah sentiasa mendoakan kedua ibu bapa angkatnya walau telah berbeza keyakinan,
"Ya Allah, ampunilah kesalahan dan dosa orang tua angkatku, berikanlah tempat yang baik bagi mereka kelak di akhirat. Sehatkan dan limpahkanlah rezeki bagi mereka, sebab sesungguhnya hamba tiada mampu membalas segala kasih sayang dan ketulusan mereka selama membesarkan hamba. Robbighfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo . "

Sumber: Goresan Hikmah

Demikianlah kisahku ini, semoga dapat menambah hikmah kehidupan sahabat semua.

Cerita Paling Sedih - Saya Ibu Paling Jahat

Cerita Paling Sedih - Saya Ibu Paling Jahat

Oh, Tuhan, izinkan aku menceritakan hal ini…, sebelum ajal menjemput ku…

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang bayi laki-laki, wajahnya comel tetapi nampak bodoh. Sam, suamiku memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahawa anak ini memang agak terkebelakang dalam kebanyakan segi. Saya berniat mahu memberikannya kepada orang lain saja supaya dijadikan budak atau pelayan bila besar nanti. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga.

Pada tahun kedua kelahiran Eric, saya pun melahirkan pula seorang anak perempuan yang cantik. Saya menamakannya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, begitu juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikan pakaian anak-anak yang indah-indah…

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa helai pakaian lama. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarang dengan alasan tiada wang. Sam terpaksa menuruti kata saya.

Saat usia Angelica 2 tahun, Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun ketika itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin bertambah. Saya mengambil satu tindakan yang akhirnya membuatkan saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya bersama Angelica. Saya tinggalkan Eric yang sedang tertidur lelap begitu saja.

Setahun.., 2 tahun.., 5 tahun.., 10 tahun.. berlalu sejak kejadian itu. Saya menikah kembali dengan Brad, seorang lelaki dewasa. Usia pernikahan kami menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya seperti pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica sudah berumur 15 tahun dan kami menyekolahkan dia di sekolah jururawat. Saya tidak lagi ingat berkenaan Eric dan tiada memori yang mengaitkan saya kepadanya

Hinggalah ke satu malam… Malam di mana saya bermimpi mengenai seorang anak. Wajahnya segak namun kelihatan pucat sekali… Dia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum dia berkata, “Makcik, makcik kenal mama saya? Saya rindu sekali pada mama!”

Sesudah berkata demikian ia mulai pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, saya rasa saya kenal kamu. Siapa namamu wahai anak yang manis?”

“Nama saya Eric, makcik.”
“Eric…? Eric… Ya Tuhan! Benarkah engkau ni Eric???”

Saya terus tersentak dan terbangun. Rasa bersalah, sesal dan pelbagai perasaan aneh yang lain menerpa diri saya pada masa itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah yang terjadi dulu seperti sebuah filem yang ditayangkan kembali di kepala saya. Baru sekarang saya menyedari betapa jahatnya perbuatan saya dulu. Rasanya seperti mahu mati saja saat itu.

Ya, saya patut mati…, mati…, mati…

Ketika tinggal seinci jarak pisau yang ingin saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di fikiran saya. Ya Eric, mama akan menjemputmu Eric, tunggu ya sayang!…

Petang itu saya membawa dan memarkir kereta Civic biru saya di samping sebuah pondok, dan ia membuatkan Brad berasa hairan. Beliau menatap wajah saya dan bertanya,

“Mary, apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kita berada di sini?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku selepas saya menceritakan hal yang saya lakukan dulu,”

Aku terus menceritakan segalanya dengan terisak-isak…

Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Selepas tangisan saya reda, saya keluar dari kereta dengan diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya.

Saya mula teringat yang saya pernah tinggal dalam pondok itu dan saya tinggalkannya, Eric.. Eric… Di manakah engkau?

Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri pondok tersebut dan membuka pintu yang diperbuat daripada buluh itu… Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apapun di dalamnya!

Perlahan-lahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemui sesiapapun di dalamnya. Hanya ada sehelai kain buruk yang berlonggok di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan betul-betul… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain itu . Ini adalah baju buruk yang dulu dipakai oleh Eric setiap hari…

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sangat sedih dan bersalah, sayapun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki kereta untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang berdiri di belakang kereta kami. Saya terkejut sebab suasana saat itu gelap sekali.

Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang sangat kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Saya terkejut lagi apabila dengan tiba-tiba dia menegur saya. Suaranya parau.

“Heii…! Siapa kamu?! Apa yang kamu mahu?!”

Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apakah ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulunya tinggal di sini?”

Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu adalah perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mama…, mama!’ Kerana tidak tahan melihat keadaannya, kadang-kadang saya memberinya makan dan mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemungut sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan sehelai kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”

Saya pun membaca tulisan di kertas itu…

Mama, mengapa mama tidak pernah kembali lagi…? Mama marah pada Eric, ya? Mama, biarlah Eric yang pergi saja, tapi mama harus berjanji mama tidak akan marah lagi pada Eric. Bye, mama…”

Saya menjerit histeria membaca surat itu. “Tolong bagi tahu.. di mana dia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi! Tolonglah cakap…!!!”

Brad memeluk tubuh saya yang terketar-ketar dan lemah.

“Semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum kamu datang, Eric sudah meninggal dunia. Dia meninggal di belakang pondok ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah.

Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang pondok ini tanpa berani masuk ke dalamnya. Dia takut apabila mamanya datang, mamanya akan pergi lagi apabila melihatnya ada di dalam sana… Dia hanya berharap dapat melihat mamanya dari belakang pondok ini…

Meskipun hujan deras, dengan keadaannya yang lemah ia terus berkeras menunggu kamu di sana. Dosa kamu tidak akan terampun!”

Saya kemudian pengsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Semoga menjadi pelajaran bagi kita sebagai orang tua ataupun bagi yang akan berkahwin. Janganlah menyalahkan apa yang sudah diberikan oleh Allah. Tetapi hargailah apa yang diberikan oleh Allah. Dan cuba bersabar. Kerana DIA tidak akan memberikan sesuatu apapun dengan sia-sia.

Khamis, Julai 26, 2007

Syurga Tetap Di Bawah Tapak Kaki Ibu

Saya masih ingat satu kisah di Tanah Arab, mengenai seorang anak yang ingin pergi melanjutkan pelajaran di sebuah negeri yang jauh, tetapi tidak mendapat restu ibunya. Si anak walau bagaimana pun tetap berdegil dan tidak mengendahkan larangan ibunya yang sudah tua.

Pada suatu ketika, si anak itu sedang tekun mendalami ilmu agama di sebuah masjid, datanglah seorang pencuri berlari menyusup ke dalam masjid itu. Kebetulan mereka berpakaian hampir serupa. Si pencuri itu kemudiannya berlari keluar dari masjid itu mengikut arah yang lain.

Tiba-tiba datang sekumpulan orang, pengejar-pengejar pencuri, lalu menemui anak itu di dalam masjid. Anak itu ditangkap, dipotong kedua belah tangan dan kakinya, lantaran dituduh sebagai pencuri dan perompak.

Akhirnya, para penghukum tersedar mereka telah tersilap orang. Nasi sudah menjadi bubur, anak itu akhirnya dibawa pulang ke rumahnya. Ketika itu ibu tua yang sudah rabun matanya tidak lagi dapat mengenali si anak kerana rupanya seperti mengemis.

Si ibu menghulurkan sekeping roti untuk si anak yang disangkanya pengemis. Si anak yang masih mengecam ibunya lantas memanggil ibunya. Lalu, gentarlah hati si ibu melihat anaknya yang sudah menjadi cacat sedemikian rupa.

Si anak yang masih menderita kesakitan meminta ampun kepada ibunya, lalu dengan hati yang sedih, luka dan derita, si ibu mengampunkan si anaknya.

Lantaran tidak sanggup melihat si anak menanggung derita, serta memikirkan kesusahan yang bakal dihadapi, si ibu berdoa kepada Tuhan agar penderitaan mereka berdua ditamatkan. Lalu dicabut nyawa kedua-duanya.

Moral: Walau pun kita berniat untuk melakukan sesuatu perkara kebaikan, restu ibu itu tetap penting. Jika si ibu tidak redha, maka pasti kita akan ditimpa kecelakaan atau keaiban. Semoga Allah akan mengampunkan dosa-dosa kita. Amin.